Panduan Mengajar

CARA MENGAJAR JILID PRA TK METODE AL – MA’ARIF

  • Guru cukup memperkenalkan huruf hijaiyyah (A) dengan makhroj yang benar tanpa dieja (Alif fathah A) kepada semua santri dengan sekaligus memberikan contoh cara membacanya, kemudian semua santri disuruh membaca huruf (A) bersama-sama.
  • Setelah semua santri dapat menyebutkan huruf hijaiyyah (A) secara bersama-sama, guru melakukan percobaan kepada santri satu per satu dalam membaca huruf A.
  • Dilanjutkan dengan mengenalkan dua huruf AA, beserta dengan memberikan contoh cara membacanya pendek-pendek dan cepat.
  • Setelah santri dapat menyebutkan huruf A dan AA, mereka agar membaca sendiri huruf-huruf di bawahnya tanpa dituntun.
  • Setelah santri benar faham dengan huruf A, AA dan latihan-latihan di bawahnya, maka pelajaran dialihkan pada huruf hijaiyyah (BA) dan seterusnya sampai dengan huruf hijaiyyah (YA).
  • Setiap guru menyampaikan pokok pelajaran, latihan-latihan dan contoh-contoh harus dengan makhroj yang benar.
  • Karena jilid Pra TK ini merupakan kunci keberhasilan Metode Al Ma’arif, maka sebelum menguasai halaman 1 jangan sekali-kali menaikkan ke halaman 2, begitu juga seterusnya.

CARA MENGAJAR JILID I (SATU) METODE AL – MA’ARIF

  • Guru menjelaskan pokok pelajaran pada santri, coret satu di atas namanya fathah bersuara A/BA, coret di bawah kasroh bersuara I/BI, coret melengkung di atas namanya dhummah bersuara U/BU.
  • Jelaskan pada santri A/BA, I/BI, U/BU.
  • Setelah santri benar-benar faham dan lancar, maka dilanjutkan pada halaman berikutnya dengan memberikan contoh membacanya, coret satu di atas bersuara (TA), coret satu di bawah bersuara (TI) dan coret melengkung di atas bersuara (TU) begitu seterusnya sampai (YA), (YI), (YU).
  • Pada halaman 23 jelaskan pada santri MA ada dua, MI ada dua, ini MA ini juga MA, ini MI ini juga MI, ini MU ini juga MU. Guru tidak perlu menjelaskan panjang lebar, sebab kalau banyak komentar santri akan bingung.
  • Huruf hijaiyyah asli (tanpa harokat) di bawah garis dibaca secara berkelompok dari halaman awal sampai halaman akhir.
  • Nama-nama harokat di bawah garis juga tetap dibaca oleh santri dengan diberi contoh oleh guru terlebih dahulu.
  • Setiap guru menyampaikan pokok pelajaran, latihan-latihan dan contoh-contoh dengan makhroj yang benar.
  • Target jilid I :

-       Santri dapat membaca dan menyebutkan harokat dengan baik.

-       Santri dapat membaca huruf hijaiyyah yang asli.

  • Perhatian :

-      Dalam jilid satu ini agak sulit, karena mulai ada perubahan harokat, dari fathah ke kasroh, dari kasroh ke dhummah dan seterusnya.

-      Mengajarkan jilid satu ini tetap tidak dibenarkan menuntun atau memanjangkan pada salah satu huruf hijaiyyah.

-      Jangan sekali-kali menaikkan santri pada jilid II, sebelum santri tersebut benar-benar faham dan lancar pada jilid I.

CARA MENGAJAR JILID II (DUA) METODE AL-MA’ARIF

  • Dalam jilid dua ini guru mulai mengajarkan huruf-huruf yang berangkai (bergandeng)
  • Halaman 1 : Guru menjelaskan bahwa jumlah titik dan letak titik tidak pernah berubah, sekalipun bentuk huruf kadang-kadang bisa berubah. Guru tidak usah berkomentar banyak, cukup tanyakan huruf yang belum berangkai di pokok pelajaran, katakan huruf ini ……. Ini juga sama (maksudnya huruf yang dirangkai) begitu seterusnya tiap-tiap pokok pelajaran tanyakan nama huruf yang sudah berangkai, ini berlaku sampai halaman 11.
  • Halaman 2 : Mengajarkan bahwa huruf hijaiyyah bentuknya bermacam-macam, akan tetapi namanya sama. Guru menjelaskan kepada santri huruf ini dan ini dan ini dan ini sekalipun bentuknya berbeda-beda akan tetapi namanya sama. Ini berlaku sampai halaman 11.
  • Halaman 7 : Guru memberikan contoh membaca harokat yang ada di bawah garis cara membacanya secara berkelompok, ini berlaku sampai halaman 8. Guru mengenalkan angka / bilangan Arab dan untuk menyebutkan angka / bilangan Arab yang ada di bawah garis tidak harus berbahasa Indonesia, bisa disesuaikan dengan bahasa setempat yang berlaku, ini berlaku sampai halaman 38.
  • Halaman 11 : guru memberikan contoh membaca huruf-huruf hijaiyyah asli (tanpa harokat) di bawah garis secara berkelompok, ini berlaku sampai halaman 16.
  • Halaman 13 : Guru menjelaskan “Fathah diikuti Alif, Kasroh diikuti Ya’ dan Dhummah diikuti Wawu membacanya panjang satu alif, guru memberikan isyaroh, contoh misalnya jari telunjuk diangkat ke atas.
  • Halaman 17 : Dalam halaman ini mengajarkan tentang Fathah tanwin. Guru menjelaskan kepada semua santri bahwa coret dua di atas namanya Fathah tanwin dan bersuara AN.
  • Halaman 19 : Dalam halaman ini mengajarkan tentang Kasroh tanwin. Guru menjelaskan kepada semua santri bahwa coret dua di bawah namanya Kasroh tanwin dan bersuara IN.
  • Halaman 22 : Dalam halaman ini mengajarkan tentang dhummah tanwin. Guru menjelaskan kepada semua santri bahwa coret melengkung dua di atas namanya Dhummah tanwin dan bersuar UN.
  • Halaman 26 : Guru menjelaskan bahwa setiap fathah berdiri dibaca panjang seperti dibaca panjangnya harokat fathah yang diikuti Alif. Awas, guru harus berhati-hati dan teliti dalam memberikan contoh.
  • Halaman 28 : Guru menjelaskan bahwa setiap kasroh berdiri dibaca panjang seperti panjangnya harokat kasroh yang diikuti Ya’. Guru menjelaskan bahwa setiap dhummah berdiri dibaca panjang, seperti panjangnya harokat dhummah yang diikuti Wawu.
  • Halaman 21 : Guru menjelaskan kepada santri bahwa harokat coret dua di atas namanya fathah tanwin, coret dua di bawah namanya kasroh tanwin.
  • Halaman 22 : Guru menjelaskan kepada santri bahwa harokat coret melengkung dua di atas namanya dhummah tanwin.
  • Halaman 31 : Guru menjelaskan setiap harokat fathah diikuti Ya’ bersuara (AI) dan dibaca pendek. Bacakan contoh cara membaca LIN yang benar.
  • Halaman 32 : Guru menjelaskan setiap harokat fathah diikuti Wawu bersuara (AU) dan dibaca pendek.

CARA MENGAJAR JILID III (TIGA) METODE AL-MA’ARIF

  • Halaman 1 : Guru menjelaskan tentang Wawu sukun yang diikuti Alif cara membacanya sama dengan membaca Wawu sukun tanpa Alif.
  • Halaman 3 : Setiap huruf Lam sukun harus ditekan membacanya jangan sampai ada pantulannya. Guru hendaknya memperbanyak latihan dalam penyampaian. Contoh : Al jangan sampai dibaca Alll….
  • Halaman 4 : Setiap Lam sukun yang didahului huruf tidak berpengaruh, sama dengan tanpa Alif sehingga tetap dibaca pendek. Contoh : Wal tidak dibaca Waaal. Sekali lagi guru lebih berhati-hati dalam menyampaikan materi halaman ini.
  • Halaman 7 : Jelaskan pada anak bahwa tasydid adalah ringkasan dari dua huruf yang sama dan salah satunya berharokat sukun, adapun cara membacanya harus dibaca keras dan cepat, kecuali huruf Nun atau Mim yang bertasydid.
  • Halaman 11 : Guru memberikan contoh secara berulang-ulang tentang perbedaan huruf Kha dan Kho sehingga anak mampu membedakannya.
  • Halaman 13 : Berilah penjelasan pada anak bahwa setiap huruf Ro sukun yang didahului fathah atau dhummah dibaca tebal dan suaranya ditekan.
  • Halaman 14 : Setiap huruf Ro sukun yang didahului kasroh dibaca tipis kecuali bertemu dengan huruf isti’lak atau didahului dengan Alif, maka Ro’-nya dibaca tebal. Berilah contoh secara terus menerus.
  • Halaman 15 : Jelaskan terlebih dahulu perbedaan huruf Sin sukun dengan Syin sukun secara berulang-ulang sehingga anak betul-betul jelas.
  • Halaman 17 : Guru perlu menerangkan terlebih dahulu tentang huruf Mim sukun tidak boleh dibaca dengung kecuali bertemu dengan huruf Mim atau Ba.
  • Halaman 18 : Fathah diikuti huruf Ya sukun dibaca / bersuara Ai dan fathah diikuti Wawu dibaca / bersuara Au dan dibaca cepat. Guru perlu berhati-hati dalam menyampaikan.
  • Halaman 23 : Perhatikan pokok pelajaran (Lam Alif), Lam-nya sukun dan Alif-nya fathah. Sampaikan kepada anak bahwa yang tegak adalah Lam sukun dan yang miring adalah Alif fathah.
  • Halaman 26 : Jelaskan kepada anak secara benar, tentang bacaan ‘Ain sukun dan Hamzah sukun, sehingga sangat jelas perbedaannya.
  • Halaman 28 : Berilah contoh membaca huruf yang berharokat fathah, kasroh, dhummah dan sukun.

CARA MENGAJAR JILID IV (EMPAT) METODE AL-MA’ARIF

  • Halaman 1 : Setiap Nun atau Mim bertasydid harus dibaca dengung yang lama. Contoh : In ……na / Tsum ……ma. (Kewaspadaan guru sewaktu murid sedang membaca sangat diperlukan).
  • Halaman 4 : Setiap Nun sukun atau tanwin jika berhadapan dengan huruf Idzhar (Ha, ‘Ain, Ghin, Kha, Kho) harus dibaca jelas tidak boleh berdengung.
  • Halaman 6 : Setiap Nun sukun atau tanwin jika berhadapan dengan huruf Idzhar (Ha, ‘Ain, Ghin, Kha, Kho) harus dibaca jelas tidak boleh berdengung.
  • Halaman 16 : Jika ada tanwin bertemu salah satu huruf (Ya, Nun, Mim, Wawu) harus dibaca dengung. Guru perlu memperbanyak / mengulang-ulang membaca sehingga anak benar-benar faham.
  • Halaman 20 : Penjelasan guru sangat diperlukan tentang Nun sukun / tanwin jika berhadapan huruf Lam, suara Nun atau tanwin ditukar dengan suara Lam.
  • Halaman 21 : Setiap Nun sukun atau tanwin jika berhadapan dengan huruf Ra, suaranya Nun sukun / tanwin berubah menjadi suara Ra sukun. Perhatikan pokok pelajaran ini dan perlu penjelasan yang berhati-hati.
  • Halaman 22 : Setiap tanwin berhadapan dengan huruf Ba, Nun sukun / tanwin ditukar dengan suara Mim sukun.
  • Halaman 24 : Guru agar memperhatikan pokok bahasan di atas tentang harokat tanwin jika bertemu huruf di sampingnya untuk dibaca dengung. Contoh : (Tann …tu) dan seterusnya.
  • Halaman 26 : Mengenalkan huruf Nun sukun langsung dengan bacaan tajwid (setiap huruf Nun sukun bertemu huruf Ikhfa dibaca dengung).
  • Halaman 29 : Jika lafadz Allah didahului Kasroh dibaca Tarqiq (perhatikan pokok pelajaran). Dan guru memberikan contoh membaca berulang-ulang.
  • Halaman 32 : Mengenalkan secara langsung cara membaca Mim sukun jika bertemu dengan huruf Mim dibaca dengung.
  • Halaman 34 : Guru agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan pokok bahasan pada halaman ini dan untuk mengulang-ulang memberikan contoh bacaan Mim sukun bertemu Ba, huruf Ba seakan ada huruf Mim.
  • Halaman 36 : Guru perlu memberikan penjelasan lebih banyak tentang bacaan Idzhar Syafawi jangan sampai terdengar bacaan dengung karena jika ada Mim sukun bertemu dengan huruf selain Mim dan Ba harus dibaca jelas. Penjelasan guru tetap sangat diperlukan.

CATATAN      :   Setiap halaman yang ada garis yang perlu penjelasan guru harus membacakannya.

CARA MENGAJAR JILID V (LIMA) METODE AL-MA’ARIF

 

  • Jilid V (lima) ini materinya ada 2 (dua) yaitu :
    1. Al-Qur’an juz 30
    2. Buku Al-Ma’arif jilid 5
  • Pembagian waktu :

-     10 menit awal, membaca Al-Qur’an juz 30 secara tadarus bersama dan bergantian (secara klasikal).

-     5 menit, menenangkan dengan alat peraga (secara klasikal)

-     45 menit, untuk buku Al-Ma’arif jilid 5 (secara individual)

  • Halaman 1 : huruf Qof, Tho, Ba, Jim dan Dal jika dibaca sukun atau diwaqofkan maka harus dibaca Qolqolah (ditekan dan memantul suaranya). Guru memberikan contoh bacaan secara qolqolah yang benar :

قْ  : يقتلون

  • Halaman 2 s/d 9 latihan membaca Waqof

1.  Halaman 2 setiap sebelum huruf terakhir dibaca panjang, waqofnya bersuara panjang / lama.

مؤمنين – مؤمنين

2.  Halaman 3 setiap Alif fathah tanwin diwaqofnya dibaca fathah panjang satu alif.

عليما – عليما

3.  Halaman 4 setiap sebelum huruf terakhir dibaca pendek, waqofnya bersuara pendek / cepat.

ونسر – ونسر

4.  Halaman 6 setiap Ta’ marbuthoh (bundle) jika diwaqof maka diganti dengan suara Ha sukun.

كثيرةً – كثيرةٍ – كثيرةٌ – كثيرهْ

5.  Halaman 8 setiap harokat fathah tanwin / fathah berdiri jika dibaca waqof maka dibaca fathah panjang satu alif.

هدى, هدى – هدا

6.  Halaman 9, setiap fathah tanwin jika dibaca waqof maka dibaca fathah panjang satu alif dan jika Hamzah-nya berharokat dhummah tanwin atau kasroh tanwin, maka waqofnya dibaca sukun.

نساءً    نساءَ    نساءٌ   نساءٍ   نساءٌ

7.  Halaman 10 dan 11, setiap huruf Wawu yang tidak bertanda sukun maka sebelumnya dibaca pendek dan sebaliknya jika huruf Wawu yang bertanda sukun maka huruf sebelumnya dibaca panjang.

او تواالكتاب  اولو الالباب

8.  Halaman 12 dan 13, setiap huruf yang bertanda coret di atas (tanda Mad) maka harus dibaca lama / penjang dua setengah (2 ½) sampai 3 alif.

ضآّلين

9.   Halaman 14 s/d 20, mengajarkan cara membaca Fatikhussuwar.

Keterangan :

-  Guru harus memberikan contoh yang paling benar

-  Guru harus bermusafalah dengan guru mutawatir.

  • Halaman 21 s/d 43, latihan membaca surat dan ayat-ayat pendek dengan benar dan diharapkan santri hafal.
  • Setelah lulus jilid 5 (lima) ini, santri dinaikkan ke kelas khusus, yaitu kelas Al-Qur’an.

KELAS Al-QUR’AN (KELAS KHUSUS)

  • Kelas Al-Qur’an ini materinya ada 3 yaitu :
    1. Al-Qur’an harian 30 juz.
    2. Buku Pelajaran Ghorib
    3. Buku Pelajaran tajwid
  • Dibagi dua tahap yaitu :

a.   Tahap pertama dengan materi :

1.   Klasikal, pelajaran Ghorib 10 menit

2.   Klasikal, tadarus Al-Qur’an bersama 15 menit

3.   Klasikal Baca-simak 30 menit.

b.   Tahap kedua dengan materi :

1.   Klasikal, pelajaran Tajwid

2.   Klasikal, tadarus Al-Qur’an bersama 15 menit

3.   Klasikal Baca-simak 30 menit dengan diterapkan Al Waqfu wal Ibtida.

CATATAN :

Dalam mengajarkan buku pelajaran Ghorib dan Tajwid, santri tidak boleh disuruh hafalan akan tetapi diusahakan tanpa menghafal.

(Sumber : Materi PGPQ Marhalatul Ula, FUSPAQ Kabupaten Kendal)
About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Dari Fuspaq Untuk Calon Para Ustadz dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s