Konsep Diri Kita

Kita ini hidup semakin hari seharusnya semakin baik konsep diri yang kita miliki dan kita lakukan. Karena seseorang hidup harus punya tujuan dan acuan yang hendak dicapainya, khususnya yang berkenaan dengan konsep diri yang coba kita suguhkan kepada orang lain atau masyarakat umum bahwa kita adalah orang-orang yang punya prinsip dan konsep diri yang positif.

Kesadaran seseorang bahwa dirinya itu seperti apa, umurnya tinggal berapa (usia harapan hidup penduduk Indonesia : 69,4 th. UNDP , Nov 06 2011) dan sejauh mana perbaikan-perbaikan perilaku yang sudah dicapainya, sangatlah penting untuk dimiliki oleh setiap orang khususnya kita sebagai seorang muslim. Para bapak kyai mungkin akan menyebutnya sebagai Muhasabah.

Kembali ke konsep diri lagi.

Di bawah ini akan disadurkan tulisan tentang kosep diri, dari buku PSIKOLOGI KOMUNIKASI, karya Drs. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc (pakar komunikasi, lahir di Bandung, 29 Agustus 1949). Di sana disebutkan bahwa sedapat mungkin kita memperoleh sebanyak mungkin tanda-tanda konsep diri positif. D.E. Hamachek menyebutkan sebelas karakteristik orang yang mempunyai konsep diri positif, yaitu :

  1. Meyakini betul-betul nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta bersedia mempertahankannya, walaupun menghadapi pendapat kelompok yang kuat. Tetapi dia juga merasa dirinya cukup tangguh untuk mengubah prinsip-prinsip itu bila pengalaman dan bukti-bukti baru menunjukkan ia salah.
  2. Ia mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebih-lebihan, atau menyesali tindakannya jika orang lain tidak menyetujui tindakannya.
  3. Ia tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu untuk mencemaskan apa yang akan terjadi besok, apa yang telah terjadi waktu yang lalu, dan apa yang sedang terjadi waktu sekarang.
  4. Ia memilki keyakinan pada kemampuannya untuk mengatasi persoalan, bahkan ketika ia menghadapi kegagalan atau kemunduran.
  5. Ia merasa sama dengan orang lain, sebagai manusia tidak tinggi atau rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam kemampuan tertentu, latar belakang keluarga, atau sikap orang lain terhadapnya.
  6. Ia sanggup menerima dirinya sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain, paling tidak bagi orang-orang yang ia pilih sebagai sahabatnya.
  7. Ia dapat menerima pujian tanpa berpura-pura rendah hati, dan menerima penghargaan tanpa merasa bersalah.
  8. Ia cenderung menolak usaha orang lain untuk mendominasinya.
  9. Ia sanggup mengaku kepada orang lain bahwa ia mampu merasakan berbagai dorongan dan keinginan, dari perasaan marah sampai cinta, dari sedih sampai bahagia, dari kekecewaan yang mendalam sampai kepuasan yang mendalam pula.
  10. Ia mampu menikmati dirinya secara utuh dalam berbagai kegiatan yang meliputi pekerjaan, permainan, ungkapan diri yang kreatif, persahabatan, atau sekedar mengisi waktu.
  11. Ia peka pada kebutuhan orang lain, pada kebiasaan sosial yang telah diterima, dan terutama sekali pada gagasan bahwa ia tidak bisa bersenang-senang dengan mengorbankan orang lain.

Semoga dapat bermanfaat. 

Gallery | This entry was posted in Psikologi, Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s