Apa itu dogmatis ?

Dogmatis adalah sikap seseorang atau karakteristik seseorang yang cenderung tertutup. Sangat dianjurkan untuk orang-orang yang mempunyai sikap atau karakteistik ini untuk berusaha menghilangkan atau paling tidak untuk menguranginya, karena sikap atau karakteristik ini sangat tidak efektif dalam komunikasi interpersonal sehari-hari. Dogmatis tidak identik dengan orang yang sedikit bicara. Kadang-kadang orang gampang sekali menilai seseorang itu tertutup hanya karena sedikit bicara, atau pendiam. Lawan dari dogmatis adalah open mindedness (sikap terbuka). Orang yang mempunyai sikap atau karakteristik terbuka lebih berpotensi hidup tenang, toleran, lebih bisa mendengar (hear), sabar dan pengertian.

Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan dituliskan contoh-contoh dari karakteristik orang yang dogmatis atau bersikap tertutup (dikutip dari “Psikologi Komunikasi” karya, Drs. Jalaluddin Rahmat, M.Sc.) :

  1. Menilai pesan berdasarkan motif pribadi. Orang dogmatis tidak akan memperhatikan logika atau proposisi, ia lebih banyak melihat sejauh mana proposisi itu sesuai dengan dirinya. Argumentasi yang obyektif, logis, cukup bukti akan ditolak mentah-mentah, “Pokoknya aku tidak percaya,” begitu sering diucapkan orang dogmatis. Setiap pesan akan dievaluasi berdasarkan desakan dari dalam diri individu (inner pressure). Rokeach menyebut desakan ini, antara lain kebiasaan, kepercayaan, petunjuk perseptual, motif ego irasional, hasrat berkuasa, dan kebutuhan untuk membesarkan diri. Orang dogmatis sukar menyesuaikan dirinya dengan perubahan lingkungan.
  2. Berpikir simplistis. Bagi orang dogmatis, dunia ini hanya hitam dan putih, tidak ada kelabu. Ia tidak sanggup membedakan yang setengah benar setengah salah, yang tengah-tengah. Baginya kalau tidak salah, benar. Tidak ada bentuk antara. Dunia dibagi dua ; yang pro-kita di mana segala kebaikan terdapat, dan kontra-kita di mana segala kejelekan berada.
  3. Berorientasi pada sumber. Bagi orang dogmatis yang paling penting ialah siapa yang bicara, bukan apa yang dibicarakan. Ia terikat sekali pada otoritas yang mutlak. Ia tunduk pada otoritas, karena -seperti umumnya orang dogmatis- ia cenderung lebih cemas dan mempunyai rasa tidak aman yang tinggi.
  4. Mencari informasi dari sumber sendiri. Orang-orang dogmatis hanya mempercayai sumber informasi mereka sendiri. Mereka tidak akan meneliti tentang orang lain dari sumber yang lain. Pemeluk aliran agama yang dogmatis hanya mempercayai penjelasan tentang keyakinan aliran lain dari sumber-sumber yang terdapat pada aliran yang dianutnya.
  5. Secara kaku mempertahankan dan membela sistem kepercayaannya.  Berbeda dengan orang yang terbuka yang menerima kepercayaannya secara provisional, orang dogmatis menerima kepercayaannya secara mutlak. Orang dogmatis kuatir, bila satu butir saja dari kepercayaannya yang berubah, ia akan kehilangan seluruh dunianya. Ia akan mempertahankan setiap jengkal dari wilayah kepercayaannya sampai titik darah yang penghabisan.
  6. Tidak mampu membiarkan inkonsistensi. Orang dogmatis tidak tahan hidup dalam suasana inkonsisten. Ia menghindari kontradiksi atau benturan gagasan. Informasi yang tidak konsisten dengan desakan dari dalam dirinya akan ditolak, didistorsi, atau tidak dihiraukan sama sekali.

Keprihatinan kita semua saat ini adalah, yang muncul menjadi tokoh-tokoh masyarakat dan menjadi sorotan (yang seharusnya menjadi tauladan) adalah kebanyakan orang-orang yang dogmatis.

Semoga bermanfaat.

This entry was posted in Psikologi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s