Tasawuf

Kehidupan terus berjalan dari generasi satu ke generasi berikutnya, kita tidak mampu untuk berharap setiap generasi untuk selalu sama dalam kualitas spiritulismenya seperti jaman ketika Rasulullah saw masih hidup atau setidaknya seperti jaman para sahabat nabi. Pada saat ini memperbincangkan tentang tasawuf.hampir sama dengan memperbincangkan harimau sumatra. Ada nama, dan banyak orang memperbincangkannya tetapi sedikit sekali keberadaannya. Paling tidak itu harapan saya pribadi, karena kita harus optimistis dan khusnudzon bahwa di tengah-tengah kehidupan di jaman modern seperti sekarang ini masih ada pribadi-pribadi yang hidup dan mati hanya karena Allah. Seorang ulama sufi yang bernama, Abul-Hasan ‘Ali Ustman bin ‘Ali Al-Ghasznawi Al-Jullabi Al-Hujwiri (lebih dikenal dengan nama Al-Hujwiri, wafat + tahun 456 H./ 1063-4 M.) meriwayatkan dalam kitab beliau yang berjudul Kasyf Al-Mahjub (bhs. Indonesia, Penerbit Mizan, 1992) bahwa ;

Abul Hasan Fusyanja -semoga Tuhan meridhoinya- mengatakan : Al-tashawwuf al-yawma’smun wa-la haqiqatun wa-qad kana haqiqatan wala’sman. (Pada masa ini tasawuf adalah sebuah nama tanpa hakikat, tapi semula ia suatu hakikat tanpa nama), yaitu pada masa Sahabat-sahabat Nabi saw, dan orang-orang terdahulu, – semoga Tuhan meridhoi mereka semua – nama ini (tasawuf ; pen.) tak pernah ada, tetapi hakikatnya pernah ada pada setiap orang ; kini nama itu (tasawuf) ada, tapi tidak ada hakikatnya. Artinya, semula praktik ini dikenal, dan pretensinya (maksud tertentu yang terselip – penerj) tidak dikenal, tapi kini pretensinya dikenal, dan praktiknya tidak dikenal.

Yang menulis kitab tersebut (Kasyf Al-Mahjub) sudah wafat kurang lebih 949 tahun yang lalu. Lalu bagaimana dengan jaman sekarang kita hidup ini ya? Apa benar kita sudah tidak bersama orang-orang penganut tasawuf (para sufi / para wali) lagi? Lalu apa sih sebenarnya tasawuf itu ? Mengapa begitu banyak orang membicarakannya ? Ada banyak sekali definisi tentang tasawuf, salah satunya ada yang mengatakan bahwa tasawuf adalah sebuah tarian untuk menghadirkan ekstaseyang berasal dari daerah Timur Tengah, di mana sang penari melakukan gerakan memutar badan selama jangka waktu yang telah ditentukan (ada literatur barat yang mendefinisikan tasawuf seperti itu). Di bawah ini akan dituliskan pendapat salah satu sufi terkenal tentang definisi tasawuf. Beliau adalah Abul Qasim Al-Junayd bin Muhammad bin Al-Junayd Al-Baghdadi (210 – 298 H.). Dari kitab yang sama Al-Hujwiri meriwayatkan bahwa ;

Dan Junayd berkata : Al-tashawwuf mabniyuun ‘ala tsaman khishal al-sakha wa al-ridha wa al-shabr wa al-isyarat wa al-ghurbat wa-labs al-shuf wa al-siyahat wa al-faqr amma al-sakha fa-li Ibrahim wa-amma al-ridha fa-li Isma’il wa-amma al-shabr fa-li Ayyub wa-amma al-isyarat fa-li Zakariyya wa-amma al-ghurbat fa-li  Yahya wa-amma labs al-shuf fa-li Musa wa-amma al-siyahat fa-li ‘Isa wa-amma al-faqr fa-li Muhammad sallallahu ‘alayh wa-sallama wa-‘alayhim ajma’in. (Tasawuf didirikan di atas delapan kualitas yang dicontohkan oleh delapan orang Rasul : kemurahan hati Ibrahim, yang mengorbankan putranya ; kepasrahan hati Ismail, yang taat pada perintah Tuhan dan memberikan hidupnya yang paling berharga ; kesabaran Ayyub, yang dengan sabar menanggung penderitaan luka-luka boroknya dan menanggung kecemburuan Yang Maha Pengasih ; perlambangan Zakariyya, yang kepadanya Tuhan berfirman, “Engkau jangan berbicara kepada manusia selama tiga hari kecuali dengan tanda-tanda (isyarat)” (QS. 3;37), dan juga, Ketika ia berdo’a kepada Tuhannya dengan suara yang berbisik lembuat” (QS. 19;3) ; dan keasingan Yahya, ia sebagai orang asing di negerinya sendiri dan merasa terasing bagi sanak keluarganya, yang di tengah-tengah mereka ia hidup ; perjalanan ruhani ‘Isa, yang dengan begitu rupa meninggalkan (kemewahan) benda-benda duniawi sehingga ia hanya menggunakan sebuah cangkir dan sebuah sisir – cangkir itu ia lemparkan apabila ia melihat seseorang yang minum dengan telapak tangannyam dan sisir itu dibuang apabila ia melihat  orang lain menggunakan jari-jarinya untuk menyisir rambutnya ; pakaian bulu domba yang digunakan oleh Musa, jubahnya terbuat dari bulu-bulu binatang itu ; dan kefakiran Muhammad saw, yang kepadanya Tuhan telah menyampaikan kunci dari semua perbendaharaan harta yang ada di permukaan bumi, dan berkata (berfirman ; pen.) ; “Jangan susahkan dirimu tapi nikmatilah setiap kemewahan dengan menggunakan semua harta kekayaan ini ; dan beliau menjawab, “Wahai Tuhanku, aku tidak menginginkan itu semua ; berilah aku kenyang satu hari dan lapar satu hari.

Murta’isy mengatakan : Al-tashawwuf husn al-khulq (Tasawuf adalah watak yang baik). Hal ini ada tiga macam : pertama, kepada Tuhan, dengan  memenuhi perintah-perintah-Nya tanpa kemunafikan ; kedua, kepada manusia, dengan menghormati yang lebih tua dan berlaku kasih sayang kepada yang lebih muda dan berbuat adil terhadap sesama, dan dengan tidak mencari balasan dan keadilan dari segenap orang pada umumnya ; dan ketiga, kepada diri sendiri, dengan tidak menuruti hawa nafsu dan setan. Barang siapa yang membuat dirinya benar dalam tiga perkara iniadalah seorang yang berwatak baik.

Abul Hasan Nuri : Laysa al-tashawwuf rusuman wa-la ‘uluman wa-la kinnahu akhlaqun (Tasawuf tidak terdiri atas praktik-praktik dan ilmu-ilmu, tapi ia adalah moral (akhlak), yakni jika ia terdiri atas praktik-praktik, ia bisa dilakukan melalui usaha, dan jika ia terdiri atas ilmu-ilmu, ia bisa diperoleh melalui pelajaran ; karenanya ia akhlak, dan tidak diperoleh sampai engkau menuntut dari diri engkau sendiri prinsip-prinsip moral itu, dan memenuhi tuntutan-tuntutannya.

Cukilan di atas adalah hanya sebagian pendapat dari banyak sekali pendapat tentang tasawuf. Beliau bertiga adalah merupakan tokoh-tokoh sufi besar pada zamannya sampai sekarang. Kalau melihat ketiga pendapat tersebut, semuanya menekankan pada masalah moral atau akhlak manusia.

Kita kembali kepada ucapan; Abul Hasan Fusyanja -semoga Tuhan meridhoinya- mengatakan : Al-tashawwuf al-yawma’smun wa-la haqiqatun wa-qad kana haqiqatan wala’sman. (Pada masa ini tasawuf adalah sebuah nama tanpa hakikat, tapi semula ia suatu hakikat tanpa nama).Berani nggak ya kita semua mengakui bahwa itu benar adanya?

Tulisan ini belum sempat terposting, ada berita tentang dana pengadaan Al-Qur’an dikorupsi. Astaghfirullah hal ‘adhim. Semoga Tuhan mengampuni kita semua.

Semoga bermanfaat.

This entry was posted in Tasawuf and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Tasawuf

  1. nizar says:

    Ini website NU GAULL !!! JOs om

  2. nizar says:

    Sip kembangkan web bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s