Puasa

Memasuki bulan Ramadhan yang sangat mulia ini tidak ada salahnya untuk menyegarkan kembali definisi kita tentang apa itu Puasa. Di bawah ini akan di sadurkan tulisan tentang seputar Puasa dari seorang tokoh sufi terkemuka yaitu Abul Hasan ‘Ali bin ‘Utsman bin ‘Ali Al-Ghaznawi Al-Jullabi Al-Hujwiri. Selamat menikmati.

Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, puasa diwajibkan bagimu.” (QS. 2:183). Dan Rasul mengatakan bahwa beliau telah diberitahu oleh Jibril bahwa Tuhan berfirman : “Puasa adalah milik-Ku, dan Aku yang paling berhak memberikan ganjaran untuknya” (al-shawm li wa-ana ajzabihi), karena ibadah puasa ini adalah suatu misteri yang tidak berkaitan dengan sesuatu yang lahiriah, suatu misteri yang tidak ada sesuatu pun selain Allah yang tahu, karena itu ganjarannya tidak terbatas. Menurut riwayat, manusia memasuki surga karena rahmat Allah, dan tinggalnya mereka di dalamnya untuk selamanya disebabkan oleh pahala bagi puasa mereka, karena Allah berfirman : “Aku yang paling berhak memberikan ganjaran untuknya.” Junayd mengatakan : “Puasa adalah separuh jalan” Telah kulihat syaikh-syaikh berpuasa terus menerus, dan yang lain hanya berpuasa selama bulan Ramadhan. Yang pertama mencari ganjaran, dan yang terakhir berusaha menafikan sikap keras kepala dan riya’. Telah kulihat juga yang lain berpuasa dan tidak menyadari siapa pun dan hanya makan bilamana makanan tersedia di hadapan mereka. Ini yang lebih sesuai dengan sunnah. Diriwayatkan bahwa Rasul mendatangi ‘Aisyah dan Hafshah yang mengatakan kepada beliau : “Kami menyimpan beberapa butir kurma dan minyak samin untukmu.’ “Bawakanlah,” kata beliau, “aku ingin berpuasa, tapi aku akan berpuasa pada hari lain sebagai pengganti.” Lainnya telah kulihat melakukan puasa Dawud, yang disebut oleh Rasul sebaik-baik puasa yakni mereka berpuasa satu hari dan membuka puasa pada hari berikutnya.

Suatu ketika, aku datang menemui Syaikh Ahmad Bukhari. Di hadapannya terhidang satu talam kue milnis (halwa), dan dia sedang memakan kue itu, dan dia memberikan isyarat kepadaku agar ikut mencicipi kue itu. Sebagaimana layaknya orang muda, kujawab (tanpa berpikir lagi) bahwa aku sedang berpuasa. Dia bertanya, “Mengapa?” Aku jawab : “Serupa dengan yang dilakukan si fulan.” Dia mengatakan : “Tidak dibenarkan bagi manusia meniru manusia lainnya.” Aku ingin membuka puasaku, tapi dia mengatakan : “Karena engkau ingin berhenti menirunya, jangan meniruku, karena aku juga seorang manusia.” Puasa pada hakekatnya adalah keberpantangan, dan ini memuat seluruh metode tasawuf (thariqat). Derajat terendah dalam puasa adalah lapar, yang merupakan makanan Tuhan di bumi, dan secara universal terpuji dalam pandangan hukum dan akal. Puasa sebulan suntuk wajib bagi setiap muslim yang telah mencapai kedewasaan. Proses dimulai pada munculnya bulan Ramadhan, dan berlanjut hingga nampak bulan Syawwal, dan untuk setiap hari diperlukan niat yang ikhlas dan penunaian kewajiban (puasa) itu. Keberpantangan melibatkan banyak kewajiban, umpamanya menjaga perut tanpa makanan dan minuman, dan menjaga mata dari pandangan-pandangan birahi, dan telinga dari mendengarkan ucapan-ucapan buruk mengenai seseorang, dan lidah dari kata-kata yang sia-sia atau yang kotor, dan badan dari menuruti hal-hal duniawi dan ketidaktaatan kepada Tuhan. Orang yang bertindak seperti ini sebenarnya dia menjaga puasanya, karena Rasul mengatakan kepada seseorang, “Apabila engkau berpuasa, biarlah telingamu berpuasa dan juga matamu, lidahmu, tanganmu dan setiap anggota tubuhmu.” Beliau juga bersabda, “Banyak orang yang tidak memperoleh kebaikan dari puasanya kecuali lapar dan haus.”

Aku bermimpi bertemu Rasul dan memohon kepada beliau untuk memberiku nasehat, dan beliau menjawab : “Tahanlah lidahmu dan indera-inderamu.” Menahan indera-indera adalah mujahadat yang sempurna, karena semua macam pengetahuan diperoleh melalui panca indera : penglihatan, pendengaran, pencerapan, penciuman dan perabaan. Empat dari indera-indera itu mempunyai suatu locus (tempat) yang khusus, tetapi yang kelima, yakni perabaan, tersebar ke seluruh tubuh. Segala sesuatu yang diketahui manusia melewati lima pintu ini kecuali pengetahuan intuitif dan ilham Tuhan, dan pada masing-masing indera terdapat kesucian dan ketidaksucian. Karena, sebagaiman mereka terbuka bagi pengetahuan, akal dan ruh, demikian pula mereka terbuka bagi imajinasi dan hawa nafsu yang merupakan organ-organ yang berperan dalam ketaatan dan dosa dan berperan dalam kebahagiaan dan penderitaan. Karena itu, perlu bagi orang yang melakukan puasa untuk memenjarakan semua indera itu agar mereka bisa berpaling dari ketidaktaatan ke ketaatan. Berpantang hanya dari makanan dan minuman adalah permainan anak-anak. Orang harus berpantang dari kesenangan-kesenangan yang tidak berguna dan perbuatan-perbuatan yang diharamkan, bukan dari makan makanan yang halal. Aku heran pada orang-orang yang mengatakan bahwa mereka melakukan puasa sunnah namun mereka tidak mampu melaksanakan tugas yang diwajibkan. Tidak berbuat dosa itu wajib, sementara berpuasa terus menerus itu adalah sunnah Rasul (yang bisa dilaksanakan atau ditinggalkan). Bilamana seseorang dijaga oleh Tuhan dari dosa, semua perikeadaannya adalah puasa.

Semoga setelah kita melalui bulan Ramadhan ini, bulan depan yaitu Syawwal kita dapat menjadi manusia yang lebih baik. Amien

Semoga bermanfaat.

This entry was posted in Tasawuf and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s